Dalam dunia fotografi, white balance
sebenarnya digunakan untuk menormalisasi warna yang ditangkap di atas film yang
seringkali tidak alami karena faktor-faktor tertentu, misalnya cahaya atau
faktor lain. Contohnya, ketika sinar matahari memasuki kedalaman di bawah air,
secara perlahan-lahan warna-warna akan menghilang di kedalaman tertentu. Warna
merah akan menghilang di kedalaman 5 meter, warna kuning di kedalaman 10 meter,
sampai akhirnya warna biru dan hijau saja yang tersisa di atas kedalaman 18
meter [Majalah Behind the Screen Vol2 #11 | September 2006]. Untuk
mengembalikan warna tersebut, digunakan filter white balance pada kamera
manual, atau manual white balance setting untuk kamera digital yang
tidak mendukung pemasangan filter.
Akan tetapi selain digunakan untuk
mengembalikan warna yang hilang, seringkali white balance dimanfaatkan untuk
memberi efek visual pada foto. Misalnya filter CPL untuk mempertajam warna
biru, filter Sephia untuk memberikan efek kusam seperti foto-foto jadoel.
Pada kamera digital — dari yang
paling murah (baca: poket) sampai yang paling mahal –, paling tidak ada
beberapa settingan khusus untuk pengaturan white balance antara lain:
- Auto White Balance
Settingan ini adalah settingan otomatis. Fotografer mempercayakan sepenuhnya kepada kehebatan si kamera dan biasanya kamera akan mencari settingan white balance yang paling natural, sama seperti aslinya. - Cloudy
Settingan ini biasanya digunakan untuk menambah dan memperkuat warna kuning kecokelatan. Jika diterapkan pada gambar matahari senja atau pagi ketika matahari menyingsing, warna yang akan didapatkan akan jauh lebih artistik. - Day Light
Seperti namanya, settingan ini akan menormalisasi gambar yang berada pada lighting yang berlebihan seperti misalnya dalam kondisi outdoor yang bermandikan cahaya matahari. Warna yang diperkuat juga kuning kecokelatan namun penguatannya tidak sekuat settingan cloudy. - Tungsten
Tungsten digunakan untuk menormalisasi gambar yang berada di bawah lampu tungsten. Jika digunakan dalam lingkungan yang normal, maka efek yang dihasilkan menjadi kebiru-biruan. Tidak seperti filter CPL yang membirukan warna biru, tungsten akan membuat keseluruhan gambar menjadi mayoritas berwarna biru. - Fluorescent
Settingan ini digunakan untuk menormalisasi gambar yang berada di bawah lampu fluorescent atau yang lebih umum disebut neon warna putih atau lampu TL. Lampu TL adalah salah satu lampu yang paling tidak artistik, karena terlalu banyak menyemprotkan warna putih dan memudarkan warna yang lain. Untuk membuatnya lebih natural, bisa dipakai filter fluorescent ini.
Selain itu, kamera digital masih
memiliki satu settingan white balance, yaitu manual white balance. Semua
tugas pengaturan white balance diserahkan kepada si fotografer. Caranya dengan
mengarahkan sensor white balance ke warna tertentu. Tindakan ini seperti kita
memberitahu si kamera, “Eh kamera, ini lho yang kumaksud dengan warna putih
itu!”. Untuk mendapatkan efek paling natural, tentu saja kita harus mengarahkan
sensor kepada warna putih. Tetapi kita bisa saja mengarahkan sensor ke warna
yang tidak selalu putih untuk mendapatkan berbagai macam filter dan efek
artistik tertentu.
Berikut ini beberapa efek manual
white balance jika diarahkan ke warna-warna tertentu.
- Putih: Efek yang didapatkan natural, sama seperti aslinya.
- Biru: Efek yang didapatkan adalah cokelat tua yang diperkuat dengan tajam seperti warna yang terbakar. Mirip dengan filter sephia tetapi tidak kusam.
- Cokelat: Akan mendapatkan hasil dengan warna kebiru-biruan seperti efek tungsten. Semakin tua warna cokelat-nya, semakin biru gelap pula efek yang dihasilkan.
- Hijau: Karena kamera menganggap warna hijau sebagai patokan warna putih, maka efek yang dihasilkan akan membuat gambar menjadi pink. Warna cokelat akan berubah menjadi warna pink yang lembut.
Sebagai penutup, berikut ini adalah
kolase yang menunjukkan beberapa gambar hasil setting white balance yang
diubah-ubah.
Gambar A adalah settingan auto white
balance. Kemudian B adalah Day Light. Warna pink pada C hasil manual white
balance yang sensornya diarahkan ke warna hijau. Warna biru pada D adalah efek
tungsten. Warna cokelat pada E adalah manual white balance yang diarahkan pada
warna biru. Sedangkan F adalah hasil pengaturan white balance pada Cloudy.
Settingan Cloudy dan Day Light tidak terlalu berpengaruh karena gambar berada
pada cahaya indoor dan pencahayaan yang dipakai adalah cahaya matahari alami
yang menerpa objek dari sisi kanan setelah melalui jendela. Untuk mendapatkan
perbedaannya, cobalah menggunakan setting Cloudy ketika memotret langit
matahari yang sedang menyingsing atau tenggelam. Untuk setting Day Light,
cobalah memotret objek di bawah terik sinar matahari dan rasakan perbedaannya!
Selamat mencoba!
Ada tambahan dari milis NaratamaTV
pada dasarnya white balance untuk
men-standart-kan warna putih berdasarkan sumber cahaya yang ada ( Matahari/
Daylight dan Bohlam,lapu pijar/ Tungsten) masing-masing 5600K dan 3200K karena
kamera menggunakan Voltage (listrik), terkadang sering terjadi selisih 0,5 V
saat starting (on Camera). hal ini yang menyebabkan suka tergesernya standart
Kelvin yang ada. contoh; Tungsten 3000K. sebenarnya tidak hanya listrik keadan
sumber cahaya sekitar yang diterima saat start kamera menjadi range value
(rata-rata warna yang disimpulkan CCD) oleh karena itu White balance perlu
dilakukan, walaupun dari pabrik telah menyiapkan menu filter 5600,3200,5600+ND
untuk dilensa, preset A,B untuk di engine camera. Untuk experimental WB dilain
kertas/ media putih dapat mengakibatkan umur CCD pendek
secara logika jika kita mencoba
menaikkan sebuah spektrum warna, maka CCD akan mengadaptasi untuk berpikir
merubah warna yang lainnya …
disarankan WB lensa harus Outfocus
hal ini dilakukan agar CCD menerima average colour of white (rata-rata warna
putih yang terpendar), jangan lupa dengan bantuan sumber cahaya yang cukup.
Pada
kamera profesional, tombol white balance adalah tombol yang sama untuk black
balance. Kalau untuk melakukan white balance tombolnya “ditarik/diangkat” ke
atas sedangkan untuk black balance ditarik ke bawah. Black balance dilakukan
setelah melakukan white balance. Secara sederhana kalau white balance untuk
menentukan “true-white” sebagai “kode” yang befungsi mengadjust warna yang
lain, maka black balance dibutuhkan untuk mencari “true-black”.
Dengan
memakai Sony PD 170. Kalau di-indoor, sebaiknya dilihat dulu apakah indoor ini
benar2 gelap, tidak ada cahaya matahari yang masuk? atau indoor tapi masih ada
jendela terbuka dan cahaya matahari masuk dengan terang. Lalu, perhatikan juga,
apakah ada lampu yang menyala? atau ruangan ini menjadi sangat terang karena
selain ada sinar matahari, juga ada sinar lampu ruangan. Kalau sudah begini,
berhati-hatilah karena sumber pencahayaan ada dua yaitu Daylight dan Tungsten
bersamaan. Usahakan sumber hanya ada satu, misalnya Daylight caranya dengan
membuka jendela atau pintu agar cahaya bisa masuk kedalam ruangan. Kalau ingin
Tungsten ya usahakan tutup arah cahaya matahari serapat mungkin.Tapi kalau
tidak bisa dibedakan atau terpaksa harus menggunakan daylight dan tungsten maka
sebaiknya lakukanlah White Balance pada arah cahaya yang paling dekat dengan
objek. Perhatikan juga arah cahaya apakah Directional atau diffuse. Kalau perlu
lampu2 yang didalam ruangan sebisa mungkin diatur arah pencahayaannya. Untuk
Autolock dikamera PD-170, biasanya digunakan pada syuting2 yang cepat dalam
mengejar narasumber saat kita tidak mempunyai waktu untuk White Balance. Tapi
kalau masih bisa melakukan white balance, sebaiknya manfaatkan saja, selalu
white balance. Biar struktur warna tetap konsisten dan sesuai dengan kondisi
lapangan.
Walaupun
diluar ruang, tetap saja ada kemungkinan ada perubahan derajat kelvin yang
mempengaruhi warna. jadi wb itu penting selalu, dan jangan di lock kecuali
taping di malam hari dengan set lampu yang menjadi sumber utama cahaya,
misalnya pada saat konser musik, atau bikin film malam hari. white balance
sendiri mengadaptasi sel mata manusia yang ada dua, yaitu sel bulat (yang
berfungsi siang hari) dan sel panjang (yang berfungsi malam hari). dimana dalam
dunia fotografi kemudian pencahayaan secara garis besar dibagi dua, yaitu
daylight dan tungsten. derajat kelvin sendiri dipakai bukan sebagai parametar
suhu, tapi parameter warna. itulah sebabnya alatnya disebut collormeter. karena
dalam dunia fisika, setiap warna mempunyai derajat yang lebih mudah diukur dan
terlanjur diakui dunia internasional dalam hitungan kelvin (bukan celcius atau
farenheit). ini ada kaitannya dengan prisma warna, dimana putih akan
menghasilkan jutaan warna setelah dipilah melalui kaca prisma. oh ya, putih
dalam dunia seni rupa bukanlah warna. begitu juga dengan hitam, dan
abu-abu.gampangnya, sinar matahari pagi jam 7 akan mempunyai derajat kelvin
yang berbeda pada sinar matahari jam 9. padahal cuma beda 2 jam. gak percaya?
coba deh di tes.. apalagi kalo pake mendung.. wuih bisa lain lagi ceritanya.
artinya, kalo nekat liputan di jam segitu trus gak sering wb, alamat belang deh
tuh gambar. Untuk white balance, harus.. catat ya HARUS di media putih. namanya
juga WHITE BALANCE. putih ini dipakai untuk patokan warna NOL (ingat teori
prisma warna tadi ya..). sehingga derajat kelvinnya akan menangkap derajat
jutaan warna secara maksimal.
